Oleh: Irawaty | Juni 21, 2009

Tangisku untuk Afrika

Kebetulan aku melihatmu
Ketika belum genap kukumpul keping jiwaku
Ketika aku mencari bagian yang hilang
Aku melihat sosokmu
Tangan sekurus itu, apakah engkau manusia?
Wajah setirus itu, mungkinkah pernah tersenyum sekali saja?

Tangisku bagi Afrika, tanah sejuta cerita
Darimu aku mampu ucapkan syukur
Ternyata, dibandingkan rakyatmu
Aku hidup bagaikan raja

Bumi seakan menolakmu
Ia tak mau berimu sesuap nasi dari lumbungnya
Langit seakan tidak peduli padamu
Melihat engkau, ia pelit air mata

Andai aku bisa
Aku kan terbang sekarang jua

Namun aku tak mampu!
Aku si munafik!
Sebenarnya aku hanya bisa menangis!
Ya, menangis dan menyalahkan
Menyalahkan langit dan bumi
Mencari pembenaran akan diriku

Sahabat, katakan bagaimana engkau kan perlakukanku
Aku dan kemunafikanku
Seharusnya dibuang jauh-jauh!
Dunia lebih baik tanpaku

Namun, aku si munafik
Suatu ketika kan tinggalkan kulitku
Aku kan menjadi manusia baru
Suatu ketika kan kugendong bayimu
Dengan kedua tanganku
Kan kuelus kepalanya dengan sejuta cinta

Afrika, terima kasih
Engkau beriku arti hidup ini
Aku melihat engkau memegang obor menuntun jalanku
Suatu ketika aku kan datang padamu
Ya, pasti! Suatu ketika nanti…

Oleh: Irawaty | Juni 20, 2009

Lega

Kala sang waktu datang

Menjemputku tinggalkan masa kecilku

Sekaligus songsong masa depanku

Ia tinggalkanku di persimpangan jalan

 

Aku bingung, jalan mana harus kutempuh?

Sering kudengar orang bilang,

Hidup hanya sekali, jangan sia-siakan

Aku semakin takut tersesat

 

Di kananku ada jalan lurus nan jemu

Tiada aral dan rintangan kan jegal ku

Di kiriku ada jalan terjal nan liku

Angin dan badai ciutkan nyaliku

 

Dikala aku melihat ke kanan kiri

Sahabatku datang menghampiriku

Dengan Tangan-Nya Dia tuntunku

Melalui jalan berliku, aku memandangNya ragu

Namun, Ia tersenyum berkata kepadaku:

“Jangan takut, Aku menyertai jalanmu”

 

Aku tak tahu dan tak mengerti

Satu kata dari-Nya laksana dorongan ombak

Menerjang dan tuntun jalanku sampai aku tiba di pantai

 

Ah, leganya!

Ada Dia, siapa kan kutakutkan?

Dialah Ayahku sekaligus temanku

Ada Dia menemaniku, kurang apa hidupku?

 

Kawan, aku berbagi rasa

Barangsiapa haus akan-Nya, cari dia

Di kala engkau berdiri di persimpangan hidupmu

Engkau bingung, takut, dan ragu

Panggil Dia, Dia kan ada

Dia tetap setia

Oleh: Irawaty | Juni 17, 2009

Bunda, kasihmu sepanjang masa

Bunda,

Sembilan bulan pengorbananmu

Membawa aku datang ke dunia

Susah dan sakit mendera jiwa ragamu

Hanya demi tangisanku di tanganmu

 

Bunda, kasihmu tak terbatas

Luasnya langit tak seluas sanubarimu

Dalamnya laut tak sedalam kasihmu

 

Bunda, kasihmu laksana mentari

Memberi tanpa harap kembali

Namun, engkau lebih dari itu

Senyummu mengalahkan cerahnya mentari

 

Bunda, aku tahu..

Kadang aku buatmu kecewa

Sempat mengalirkan air mata

Bunda, maklumilah

Sebab aku remaja yang ingin menjangkau dunia

Menggenggam mentari dengan tanganku

Mengelilingi dunia dengan kakiku

 

Bunda, seumur hidup engkau yang paling mengenalku

Engkau tahu tabiatku

Aku seorang yang gagu

Aku bukan pujangga,

Merangkai kata bukan keahlianku

Bunda,  Ku hanya bisa

Mensyukuri kedua tangan ini

Menulis suatu yang berarti

Untuk ungkapkan cinta padamu

Ungkapkan kasihmu tak terbatas

Ungkapkan kasihmu yang tak terbalas

Bunda, kasihmu sepanjang masa

Oleh: Irawaty | Juni 16, 2009

Kejujuran

Suatu hari ada seorang pemotong kayu sedang memotong dahan di tepi sungai. Tidak sengaja kapaknya jatuh ke dalam sungai. Lalu Tuhan muncul dan bertanya: Mengapa kamu menangis?

Ia menjawab: Kapak saya terjatuh ke air, padahal kapak itu sangat diperlukan untuk mencari kayu untuk dijual.

Tuhan turun ke dalam air, lalu muncul kembali dengan membawa sebuah kapak yang terbuat dari emas. Lalu Tuhan bertanya: Apakah ini kapakmu?

Sang Pemotong kayu menjawab: Bukan. Tuhan turun lagi ke sungai dan kembali dengan  kapak perak, Tuhan bertanya lagi: Apakah ini kapakmu?

Penebang kayu menggelengkan kepala lagi dan menjawab: bukan

Keitga kalinya Tuhan turun ke sungai dan kali ini kembali dengan sebuah kapak besi. Lalu Tuhan bertanya apakah ini kapakmu?

Si penebang menjawab: benar

Tuhan berkenan dengan kejujuran sang penebang kayu, dan memberi ketiga kapak tersebut sebagai hadiah. Si penebang kayu pun pulang ke rumah dengan gembira.

 

Beberapa waktu kemudian si penebang kayu berjalan-jalan dengan istrinya di tepi sungai, dan tiba-tiba istrinya jatuh ke sungai.

Ketika ia berseru dan menangis, Tuhan muncul dan bertanya: Kenapa engkau menangis?

“Ya Tuhan, Istriku jatuh ke dalam air!” jawabnya

Tuhan turun ke sungai dan muncul dengan membawa Jenifer Lopez.

“Apakah ini istrimu?” tanya Tuhan

“Benar!” kata si penebang

Tuhan jadi marah besar, lalu berkata” Bohong!Itu tidak benar!”

Sang penebang kayu menjawab: “Ampuni aku, Tuhan, ini kesalahpahaman”

Lalu ia melanjutkan:” Seandainya aku mengatakan ‘bukan’ pada Jenifer Lopez, pasti Engkau muncul lagi dengan Madonna, lalu jika aku berkata ‘bukan’ lagi, Engkau akan muncul lagi dengan membawa istriku. Seandainya aku mengatakan ‘ya’ Engkau pasti akan memberikan ketiga-tiganya padaku. Tuhan, aku orang miskin, aku tidak sanggup menghidupi tiga istri, makanya aku mengatakan ‘ya’ pada Jenifer Lopez.

disadur dari: Karakter

Komentarku:Terkadang memang susah jadi orang jujur, kalo nggak disalahpahami ya dikira cari muka, tapi percaya deh, kejujuran itu yang paling baik. Kalo kita bohong sekali, kita mesti bohong kedua kali untuk menutupi kebohongan yang pertama, trus bohong ketiga kali untuk nutupi kebohongan kedua. Itulah, kebohongan nggak ada habisnya.

Tapi ada juga yang namanya bohong buat kebaikan, kalo bohong yang ini aku setuju, karena adakalnya nggak tau itu lebih baik daripada tau tapi sakit hati, hehe..

teman-teman ada cerita lain tentang kejujuran?

Kalo ada tolong kirim ya ke email aku : pheonix_kasih@yahoo.com

nanti aku posting ke blog aku, biar bisa berbagi cerita dengan pembaca lainnya, ok?

thanks,

 

Ira

Oleh: Irawaty | Juni 15, 2009

Rela Berkorban

….laksana lilin yang menerangi orang lain dengan membakar dirinya sendiri…
Pepatah Cina

Siapa tak kenal Bunda Teresa? Bidadari dari Kalkuta yang merupakan malaikat kaum miskin di India. Bunda Teresa merupakan teladan dari sikap rela berkorban. Ia meninggalkan kehidupannya yang berkecukupan demi kaum miskin di India, sebuah negeri yang sama sekali asing baginya.  Ia hanya datang berbekal tekad dan sedikit uang, disertai dorongan dari sanubarinya yang berasal dari Tuhan.

Ia rela hidup miskin,  mengabdikan seluruh hidupnya dalam pencarian akan Tuhannya di antara kaum papa. Sungguh, diantara tokoh-tokoh berpengaruh di dunia, ia lah teladan dalam cinta kasihnya yang tidak terbatas, tanpa memandang uang, status dan penghalang lain, yang seringkali membuat jurang antara kita dan saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Kiranya semangat seorang Teresa tertanam di sanubari kita, akan pentingnya mengasihi sesama.

Oleh: Irawaty | Juni 14, 2009

Hati yang Peka

Teman-teman, pernahkah kamu memandang sekelilingmu, memandang hidup ini dengan segala kemiskinannya, segala kemelaratan dengan penyakitnya? Dan, apa yang kamu lakukan untuk membantu mereka yang menderita?

Apakah teman-teman pernah mendengar tentang Albert Schweitzer?

Albert Schweitzer merupakan anak seorang pendeta di Alsace (perbatasan Jerman dan Perancis).  Suatu hari, ia bermain adu kekuatan dengan teman-temannya, dan ia menang. Namun, temannya mengatakan bahwa ia menang karena sebagai anak pendeta, ia bisa makan daging setiap hari,hingga ia lebih kuat, sedangkan mereka yang anak petani biasa hanya makan daging kadang-kadang seminggu sekali. Ucapan itu terus diingatnya hingga ia pulang ke rumah, dan ia mengurung diri di kamarnya.

Pada saat makan malam, seperti biasa ibunya menghidangkan daging untuk makan malam mereka. Ibunya memanggil Albert untuk makan, tetapi ia tidak mau, ia mengatakan bahwa teman-temannya makan daging seminggu sekali, ia pun akan begitu. Ayahnya sangat marah padanya, namun ia tetap bersikeras untuk hidup seperti teman-temannya.

Setelah dewasa, Albert belajar musik, dan menjadi seorang pianis ternama. Namun, suatu ketika ia membaca sebuah majalah yang melukiskan kemiskinan penduduk Afrika, dimana timbul penyakit kusta dan banyak penderita busung lapar meninggal dunia. Ia pun tergerak dan bertekad pergi ke Afrika untuk menolong mereka. Di usianya yang ke-30, ia belajar kedoteran. Dan pada saat ia berusia 36 tahun ia lulus kedokteran dan bersiap-siap pergi ke Afrika, tepatnya  Lambarene, Gabon.

Tentu saja, penduduk Afrika menyambut baik kedatangannya. Meskipun awalnya ia kesulitan dikarenakan perbedaan bahasa dan kepercayaan penduduk Afrika akan hal-hal mistis, namun akhirnya ia dapat menunaikan tugasnya sebagai dokter yang menyelamatkan nyawa banyak penduduk Afrika hingga akhir hayatnya.

 

Kesanku saat pertama kali membaca buku tentang Albert Schweitzer adalah: ia orang berhati peka, meskipun tidak pernah hidup miskin, namun ia dapat merasakan kemiskinan di sekitarnya. Dan posisinya sebagai orang mampu tidak membuatnya sombong, malah ia berusaha hidup miskin seperti teman-temannya. Ia belajar dan memulai hiudpnya yang baru saat berusia 30 tahun, saat ia menemukan panggilan hidupnya. Segala kemewahan dan status yang diperolehnya ia buang demi penduduk di Afrika.

Perjuangannya memberi hasil yang tidak ia kira, Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1952, dan banyak penghargaan lainnya.

Itulah seorang Albert Schweitzer, manusia dengan hati Tuhan yang menyertainya.

Oleh: Irawaty | Juni 14, 2009

Kerikil

Kecil rupaku

Namun jangan remehkan aku

Pencakar langit takkan berdiri tanpaku

Tanpaku, jalanan hanya seonggok debu

 

Sering engkau lewatiku tanpa menoleh

Menginjakku laksana sampah

Melemparku ke danau ketika engkau galau

Menendangku sembari bersiul

 

Jangan engkau remehkan ku, si kerikil kecil

Aku pun diciptakan punya makna

Aku menggambarkan orang teraniaya

Orang yang tidak dipandang sebelah mata

Di jalananan terlunta-lunta

Dijadikan objek hina

Ditendang di kala tak berdaya

 

Namun engkau tak bisa tanpaku

Kecil pun aku, namun aku melengkapimu

Tak dipandang, namun Sang Kaya tak bisa kekuranganku

Pernahkah kau lihat

Orang mengenakan perhiasan sambil mengepel?

Pernahkah engkau melihat Si Kaya,

Mengenakan gaun mahal sambil memangkas kebunnya?

Tidak, sampai kapan pun tidak

 

Sekali lagi, jangan remehkan aku

Aku juga memiliki harga diri

Aku tidak bisa kau tindas sesukamu

Aku bisa bangkit bersama kaumku

Ketika aku bersatu, benteng pun tak sanggup membendungku

Bulan pun menyembunyikan wajahnya

Mentari bersinar redup,

Takut menyilaukan mataku

 

Akulah si kerikil

Kecil rupaku,

Tapi jangan pernah kau remehkan aku

Oleh: Irawaty | Juni 12, 2009

Persahabatan

…..rahasia persahabatan adalah memberi kekuatan dan dukungan dalam penderitaan seorang teman, dan bukannya terlibat terlalu jauh dalam kesedihannya yang justru akan makin membebani.

J. Donald Walters: Rahasia Persahabatan

 

Dikisahkan, ada seorang anak yang mengalami kanker otak. Selama menjalani terapi, rambut anak tersebut rontok sehingga ia kepalanya menjadi botak. Ia ingin kembali bersekolah, namun takut teman-temannya menertawakan kebotakannya.

Ternyata teman-temannya mengetahui hal tersebut, lalu memikirkan bagaimana cara menyemangati anak tersebut dan memberitahunya bahwa ia tetap diterima diantara mereka, bagaimana pun keadaannya.

Akhirnya, seorang anak mengajukan ide yang mengejutkan: membotaki rambut beramai-ramai! Supaya teman mereka yang sakit tidak merasa minder dan kesepian.Teman-teman yang lain pun setuju.

Sepulangnya ke rumah masing-masing, anak-anak itu meminta izin kepada orangtuanya untuk menggunduli rambut. Awalnya orangtua mereka merasa heran,namun setelah anak-anak itu  menceritakan alasannya,  para orangtua pun menyetujuinya.

Ketika anak yang mengalami kanker itu kembali ke sekolah, ia merasa terkejut, teman-temannya semua menggunduli kepala deminya! Ia merasa terharu, dan sejak itu ia tidak lagi merasa minder di sekolah, karena ada teman-teman yang menemani dan mengerti dirinya bagaimana pun keadaannya.

disadur dari : Chicken Soup for Soul

 

Cerita ini merupakan kisah nyata, yang aku  baca dari buku Chicken Soup(bukan buku resep lho..). hehe..mungkin aku kurang pintar dalam menceritakan kembali, sehingga agak kurang maknanya. tapi jujur ya, aku sempat nangis pas bacanya. soalnya aku nggak nyangka aja, soalnya di buku itu disebutkan kalo anak-anak itu paling-paling masih SD, namun tindakan yang mereka lakukan itu melebihi pikiran orang dewasa.

Terkadang setelah kita dewasa pikiran menjadi lebih picik(sempit). Saat kecil pikiran kita sangat sederhana, kalo teman jatuh langsung ditolong, kalo sekarang? ada teman jatuh mau nolong pun pikir2 dulu,(ah, janganlah, nanti dikira cari muka. atau, ah, udah besar kan bisa bangun sendiri).

Aku juga kadang-kadang gitu, rasa persahabatan itu kurang, kadang timbul rasa egois. tapi saat kesepian, ujung-ujungnya ya cari teman juga, hehe..Kita masih perlu belajar arti pertemanan..

ok, apa komentarmu?

Oleh: Irawaty | Juni 12, 2009

Tentang Anak

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.

Mereka adalah putera-puteri kerinduan Kehidupan akan dirinya sendiri.

Mereka memang lahir melaluimu tetapi bukan darimu.

Dan walaupun mereka bersamamu tetapi mereka bukanlah kepunyaanmu.

 

Engkau dapat memberi mereka kasihmu tetapi bukan pikiranmu

Sebab mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau dapat memberikan naungan bagi tubuh mereka tetapi bukan jiwa mereka

Sebab jiwa mereka tinggal di rumah hari esok,

Yang tidak mungkin engkau kunjungi,

Bahkan di dalam mimpimu pun tidak

Engkau boleh berusaha keras menjadi seperti mereka, tetapi janganlah berusaha menjadikan mereka seperti dirimu

Sebab kehidupan tidaklah berjalan mundur atau berlambat-lambat dengan hari kemarin

Engkau adalah busur darimana anak-anakmu ibarat anak-anak panah yang hidup diluncurkan.

Sang pemanah melihat sasarannya di jalan yang tak terhingga, dan Ia membengkokkannya dengan keperkasaan-Nya agar anak-anak panah-Nya meluncur mulus dan jauh

Bergembiralah atas kelenturanmu di tangan Sang Pemanah;

Sebab Ia mengasihi anak panah yang meluncur, Ia juga mengasihi busur yang stabil.

 

Dikutip dari: Kahlil Gibran:”Sang Nabi”

Oleh: Irawaty | Juni 12, 2009

Hi!

Halo, thanks udah baca blog ku ini, dan thanks juga atas komentar2 yang anda kirimkan.  Jujur saja, ini blog pertamaku, dan aku sadar masih banyak yang harus aku pelajari dalam menulis blog ini. Aku minta kritik dan saran dari Anda-anda semua supaya tulisan-tulisanku dapat menjadi lebih baik ke depannya. Dan juga aku minta maaf apabila ada tulisanku yang menyinggung perasaan Anda, sebab saya juga manusia(^_^).

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.